Minggu, 29 Maret 2015

The Order: 1886

Rating: 6/10
Overhype kadang tidak bisa dihindari ketika pengembang mempertunjukan "kulit" yang ada di game mereka ketika masih dalam tahap pengembangan. Begitu produk tersebut selesai dan hasilnya tidak seperti yang diekspetasikan, maka hal itu malah memberikan gamers pengalaman bermain game yang tidak memuaskan.
The Order: 1886 adalah game yang diibaratkan sebagai Steak dengan daging mahal namun sang koki terlalu sibuk dengan lauknya, sehingga ia lupa memasak steak yang seharusnya menjadi inti dari masakan tersebut. Baca review ini lebih lanjut untuk mengetahui kenapa The Order: 1886 diibaratkan seperti itu.
Mengambil setting alternatif di abad ke-18, tepatnya era Victoria di Inggris pada tahun 1886 seperti judulnya, The Order: 1886 menceritakan kisah Ksatria Meja Bundar (Kinight's of the Round) yang dibentuk oleh King Arthur dalam melawan mahluk kegelapan yang diberi nama half-breed. Sepanjang abad tersebut para half-breed memenangkan pertarungan karena kekuatan manusia & hewan mereka, namun perkembangan teknologi memungkinkan para Ksatria Meja Bundar ini memenangkan peperangan. Dengan bantuan air ajaib bernama "Blackwater" para ksatria tersebut juga dapat bertahan hingga ratusan tahun dalam perjuangannya melawan half-breeds, yang di dalam game adalah Lycan atau Werewolf.
Gamers berperan sebagai Sir Galahad, dan kawan-kawan seperjuangannya dalam menumpas half-breed dari dunia yang kini sudah memasuki era modern. Galahad merasa bahwa ordo Ksatria Meja Bundar ini sudah kehilangan nilai-nilai pendahulunya dan kemungkinan ada pengkhianat di antara kelompok mereka.
Sebelum masuk ke bagian gameplay ada baiknya kita membahas dulu bagaimana cerita dalam The Order: 1886. Dengan gaya sinematik yang sangat ditonjolkan, game ini sebenarnya bisa dibilang sebagai sebuah film, namun sayangnya film yang tidak terlalu bagus. Kenapa? Meski gaya sinematiknya benar-benar memberikan kesan "wow" cerita yang ditampilkan tidak memberikan kesan yang mendalam.
Pasalnya banyak hal yang belum dijelaskan seperti asal muasal perang half-breed dan manusia, latar belakang Sir Galahad dan kawan-kawannya, karakterisasi yang dangkal, ending yang menggantung dan masih banyak lagi. The Order: 1886 juga game yang sangat singkat, karena kebanyakan aksi terdiri dari cutscene, quick time event (QTE), berjalan sembari menunggu objektif dengan memeriksa lingkungan yang kurang interaktif dan tentu saja: tembak menembak.
Meski begitu, The Order: 1886 adalah game ekslusif PS4 yang benar-benar menunjukkan kekuatan konsol terkini dari Sony. Detail wajah, kostum dan lingkungan benar-benar ditampilkan dengan kualitas visual yang menawan dan pastinya membuat gamers berdecak kagum. Coba lihat wajah Sir Galahad dalam close-up ketika hujan, tetesan air tampak benar-benar mengalir dari rambut ke bawah wajahnya. Selain itu rambut, kumis dan bewok Sir Galahad dkk tampak realistis dan bergerak seperti rambut asli yang ditiup angin. Voice acting di dalam game ini juga enak di dengar karena seperti Uncharted dan The Last of US, The Order: 186 menggunakan teknologi motion-capture untuk menangkap gerakan dan suara aktor yang memerankan karakter masing-masing.
Design dari dunia The Order: 1886 juga sangat detail dan terlihat seperti asli. Pengembang Ready at Dawn benar-benar berhasil dalam menampilkan setting alternatif dari Inggris di Era Victoria pada abad ke-18. Inggris di era Victoria terlihat kaya akan seni arsitektur, perkembangan teknologi yang dikembangkan sedikit lebih maju sehingga terlihat seakan mendekati era terkini dengan munculnya radio walkie-talkie dan senjata-senjata yang menawan (di bahas nanti). Inggris di abad ke-18 juga terlihat sangat misterius dan kadang mencekam, terutama di stage-stage yang menampilkan lorong gelap atau di bawah tanah. Cutsecene yang sinematik juga memberikan gaya tersendiri pada The Order: 1886, dan kemulusan cutscene ini ketika diintegrasikan dengan adegan action juga tidak menggang lancarnya bermain game. Namun karena kemulusan ini kita kadang tidak tahu kapan aksi akan dimulai, sehingga membuat gamers sedang asyik-asyik melihat cutscene dan tiba-tiba momen quick time event tiba.
Mengenai gameplay, tadi sudah disebutkan di atas bahwa game ini terdiri dari cutscene, quick time event, berjalan sembari menunggu objektif dengan memeriksa lingkungan yang kurang interaktif dan tembak menembak. Sebenarnya tidak masalah apabila sebuah game itu sangat linear atau lurus seperti The Order: 1886, namun apabila terlalu lurus dan lebih menonjolkan cutscene maka gameplay lah yang menjadi korban.
Dan benar saja: gameplay di dalam The Order: 1886 menjadi korban untuk menonjolkan grafik super mulus dan cutscene yang lebih lama dari waktu bermain sendiri. Ready at Dawn bahkan tidak menggali lebih dalam hubungan dan latar belakang, seperti yang disebutkan di atas, dari para karakter bahkan ketika sebuah misi menyuruhnya untuk berjalan mengikuti karakter lain.
Aksi baku tembak di dalam The Order: 1886 cukup menyenangkan dan asyik, meski tidak membuat kenangan manis karena terdiri dari tembak menembak dan cover saja. Selain itu tidak ada juga momen yang patut untuk dikenang, yang ada malah kenangan buruk dengan memberikan salah satu misi stealth yang sangat menyebalkan. Di sini gamers harus membunuh musuh sembari menunggu momen yang tepat untuk menekan tombol quick time event. Kacaunya apabila gamers ketahuan maka gamers akan langsung mati, tombol quick time event juga kadang tidak berfungsi dengan baik karena musuh akan langsung menengok ke belakang dan menembak kepala gamers.
Fitur stealth kill momentum ini juga diintegrasikan dengan sistem pertempuran melee, di mana gamers cukup menekan tombol segitiga untuk membunuh musuh. Namun apabila musuh kuat yang datang menghampiri karakter, maka gamers tidak akan bisa memukul mereka langsung seperti Uncharted atau The Last of Us; memaksa gamers untuk berfokus pada sisi tembak saja. The Order: 1886 memiliki beberapa koleksi senjata yang keren dan mematikan. Salah satunya adalah "Termite Gun," di mana gamers menembakan peluru "termite" yang terdiri dari bahan kimia, kemudian meluncurkan suar agar peluru yang ditembakkan tersebut dapat meledak. Gamers juga dapat menebakkan suar dulu baru kemudian menembakkan peluru agar mendapat hasil yang berbeda. Senjata lainnya adalah senapan mesin dengan tekanan angin yang dapat melemahkan musuh, grenade launcher (di abad ke-18!!!) atau senapan listrik. Semua senjata ini sayangnya digunakan terbatas karena di dapatkan di stage tertentu, sehingga gamers akan merasa kurang puas ketika menjajal senjata berkekuatan tinggi ini.
Gamers juga dapat menggunakan kemampuan khusus yang dapat melambatkan waktu dan memberikan kesempatan untuk menembak musuh. Namun kemampuan ini sayangnya sering terlupakan, mengingat gamers akan lebih fokus menembak seperti biasa sembari melakukan cover.
Ada satu hal yang dapat dipelajari dari The Order: 1886 untuk game next-gen mendatang: jangan terlalu berharap. Karena siapa tahu harapan tersebut berujung pada kekecewaan karena hasil yang di dapat tidak seperti yang diekspetasi. The Order: 1886 sebenarnya memiliki kesempatan untuk menjadi game yang bagus karena memiliki gaya sinematik yang oke, voice acting yang enak di dengar, senjata yang keren, dunia yang indah dan detail serta grafis yang dahsyat.
Sayangnya jalan cerita yang tidak jelas, penuh lubang dan pertanyaan membuat pengalaman bermain sangat membosankan. Dunia yang indah ini juga kurang interaktif, senjata keren yang ada penggunaannya terbatas, sistem melee yang aneh dan misi steath yang menyebalkan. The Order: 1886 juga memiliki waktu bermain yang singkat karena sebagian game dipenuhi dengan cutscene yang, seperti disebutkan di atas, dan tidak memberikan detail lebih dalam dari cerita atau karakter yang ada. Jikalau gamers bosan dengan game-game open-world maka The Order: 1886 patut untuk dicoba karena memiliki alur game yang lurus yang jarang ditemui di game-game sekarang. Namun ada baiknya gamers menunggu game seperti Uncharted 4: Among Thieves, yang juga ekslusif untuk PS4. Hal ini dikarenakan bermain The Order: 1886 itu seperti memakan Steak mahal namun mewah di lauknya saja. Daging yang menjadi bintang utama justru tidak dimasak seperti yang kita pesan

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More